Lelang SUN Serap Dana Rp 20 Triliun

Pemerintah menyerap dana Rp 20 triliun pada lelang Surat Utang Negara (SUN), Selasa (25/9). Jumlah ini melampaui target indikatif, yaitu hanya Rp 10 triliun. Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat, total penawaran yang masuk untuk enam seri SUN yang dilelang Rp 51,54 triliun. Ini lebih tinggi dibanding penawaran lelang SUN sebelumnya, Rp 36,8 triliun.

Penawaran masuk paling besar seri SPN03181226 yaitu Rp 15 triliun. Nominal yang diserap Rp 3 triliun. Seri yang jatuh tempo 26 Desember 2018 ini memenangkan yield rata-rata tertimbang 5,58%. Meski hasil lelang capai target indikatif, pelaksanaan lelang terakhir di kuartal tiga ini hanya memenuhi 87,3% dari total target hasil lelang kuartal-III Rp 181 triliun. Presiden Direktur Asanusa Asset Management Siswa Rizali menilai, ada peningkatan penawaran investor, karena yield cukup tinggi. “Secara valuasi yield di atas 8% menarik,” kata dia, Selasa (25/9).

Misal, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan seri FR0078 mencapai 8,27%. Menurut I Made Adi Saputra, Analis Fixed Income MNC Sekuritas, dua seri FR terbaru jadi incaran, yaitu FR0078 dan FR0077. Dua seri ini calon seri benchmark tenor 10 tahun dan 5 tahun di tahun depan. “Investor sudah mengantisipasi. Tahun depan, dua seri ini terbanyak didagangkan di pasar sekunder,” ujar Made, Selasa (25/9). Meski sentimen perang dagang masih kuat, Made menilai, in? ow asing ke pasar obligasi mulai tampak. Dari yield, permintaan in-line dengan pasar. “Selisih tawaran yield tertinggi FR0077 dan FR0078 cuma 5 basis poin, artinya bidding FR0078 cukup agresif,” kata Made. Kata Siswa, dibanding Filipina, Thailand, dan Malaysia, yield SUN lebih tinggi. Ini menambah minat asing masuk ke SUN. Bagi investor lokal, spread yield SUN dengan tingkat inflasi cukup lebar.

Prospek masih berat
Tapi, Siswa bilang, secara fundamental, kinerja obligasi domestik berat. Tak heran, investor lebih banyak memburu seri tenor pendek. Gambarannya, SPN03181226 bertenor tiga bulan mendapat penawaran terbanyak. Prospek fundamental dalam negeri masih tertekan bila pemerintah pertahankan subsidi BBM dan porsi utang 40% dalam mata uang asing. “Tiap terjadi pelemahan rupiah dan kenaikan BBM akan meningkatkan beban utang. Artinya fundamental utang kita kurang baik,” kata Siswa. Investor pilih tenor pendek untuk pangkas risiko capital loss.