Perusahaan UNVR Terus Surplus

Pelemahan nilai tukar rupiah membuat sejumlah perusahaan harus memikirkan ulang strategi demi menangkal kenaikan beban yang berpotensi menggerus kinerja. Salah satu perusahaan yang bekerja keras menanggulangi pelemahan ni- lai tukar rupiah ini adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Corporate Secretary UNVR Sancoyo Antarikso menjelaskan, pelemahan rupiah tentu berdampak terhadap biaya perusahaan konsumer ini. Pasalnya, sejumlah bahan baku maupun kemasan UNVR berhubungan dengan mata uang asing, seperti dollar Amerika Serikat (AS), euro dan poundsterling. Salah satu contohnya adalah, minyak sawit atau palm oil. Sancoyo menjelaskan, sejatinya UNVR membeli minyak sawit dari pemasok lokal dalam mata uang rupiah. Namun, penentuan harganya mengacu pada harga minyak sawit international yang berdenominasi dollar AS.

Perusahaan UNVR

“Jadi kalau rupiah melemah, tentu berpengaruh,” kata Sancoyo, Kamis (20/9). Untungnya, lebih dari 5% pendapatan UNVR berasal dari ekspor dan mayoritas dalam dollar AS. UNVR menggunakan pendapatan ini untuk membayar beberapa biaya yang tercatat dalam mata uang asing. Selain itu, UNVR juga terus berupaya melakukan strategi untuk melawan pelemahan mata uang rupiah, dengan cara melakukan e? siensi di semua lini usaha serta meluncurkan produk-produk baru. Bulan lalu, perusahaan ini meluncurkan dua merek baru, yaitu sambal merek Sambal Jawara dan skin cleansing range dengan merek Korea Glow. Pada beberapa bulan ke depan UNVR juga akan kembali meluncurkan inovasi baru. Namun, Sancoyo menolak memaparkan inovasi seperti apa yang akan diluncurkan.

Mengelola biaya
Di tengah kondisi pelemahan rupiah terhadap dollar AS, analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menilai, prospek saham UNVR masih baik. Sebab, meski ada sejumlah bahan baku yang harus diimpor, namun UNVR mengimbanginya dengan penjualan ekspor, meski komposisinya masih kecil. “Komposisi ekspor terhadap total penjualan dan komposisi impor terhadap bahan baku relatif kecil, sekitar 5% pada semester I 2018,” kata Valdy, Jumat (21/9). Ia menambahkan, dampak negatif dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap UNVR terlihat di sisi pembiayaan. Biaya keuangan naik 37,82% year on year (yoy) menjadi Rp 79,07 miliar pada semester I 2018.

Untuk menghadapi tantangan ini, Valdy menilai UNVR perlu memperbaiki proses penagihan piutang usaha, sehingga nantinya dapat mengurangi rasio periode penagihan alias day sales outstanding (DSO). Dengan demikian, pendanaan jangka pendek dapat ditekan. Dari sisi kinerja, UNVR memang mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih pada semester satu lalu. Namun, jika dilihat dari rasio pro? tabilitas, UNVR merupakan emiten barang konsumer yang paling profitable di antara emiten barang konsumer lainnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal tersebut bisa dilihat dari return on equity (ROE) dan return on asset (ROA). Sebagai informasi, per Juni 2018, ROA UNVR tercatat sebesar 34,39%, sedangkan ROE tercatat sebesar 140,86%. Untuk itu, Valdy merekomendasikan buy saham UNVR dengan target harga Rp 50.000 per saham sampai akhir tahun.

Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji mengatakan, dilihat dari pergerakannya, saham UNVR cenderung menurun hingga Agustus 2018 lalu. Hal ini tidak terlepas dari pencapaian UNVR sepanjang semester I 2018. Pada periode tersebut, laba UNVR mengalami penurunan 2,59% menjadi Rp 3,52 triliun, dari Rp 3,62 triliun di periode yang sama tahun 2017. Meski demikian, secara teknikal, Nafan melihat pergerakan saham UNVR selama Agustus-September berusaha menjauhi area downtrend. Sehingga, ia merekomendasikan buy saham UNVR dengan target harga Rp 50.000–Rp 51.000 per saham.