Resiko Menggeluti Dunia Entreprenuer

Sumbangan besar bagi perubahan sosial ekonomi masyarakat dan kebebasan dalam mengatur waktu yang lebih dibanding menjadi pegawai kantoran membuat pekerjaan sebagai entrepreneur sekarang dianggap keren bagi orang zaman now. Namun, di balik keindahan yang tampak di media, karena keberhasilan sebagian para entrepreneur, sesungguhnya ada sisi lain, sebuah sisi gelap yang membayangi kehidupan mereka.

Resiko Menggeluti Dunia Entreprenuer

Susah Memejamkan Mata
Wilda Yanti, pemilik Pt Xavier Global Synergy, mengaku ada masa-masa ketika ia tidak enak makan dan tidur. “Saat memulai proyek baru, ada beban berat yang saya tanggung. Nilai investasi dan tanggung jawab yang besar pada klien sering kali membuat saya susah tidur nyenyak. Kepikiran terus,” ujar pengusaha yang bergerak di bisnis pengolahan sampah ini. hal lain yang juga sering khawatir sebagai pengusaha adalah soal karyawan, terutama soal kemampuan perusahaan untuk memberi gaji dan kesejahteraan.

Ia mengaku, sebagai entrepreneur ia cukup paham bahwa pekerjaannya yang kerap membuatnya kurang tidur dan tak sempat makan bisa berisiko pada kesehatan fisiknya. Bisnis memang tidak seglamor bayangan orang. Di balik itu, ada banyak detail yang harus dihadapi pebisnis, dan tak jarang mengalami sandungan. Seperti yang dialami Erdini Enggar, pendiri Pt Maksindo, sebuah perusahaan pembuat mesin, yang kecewa dan stres saat mengalami ujian, mulai dari urusan pajak, penipuan, hingga ditinggal karyawan.

Awam biasanya cukup ngeh bahwa stres bisa berdampak pada kesehatan tubuh. tapi, bagaimana dengan kesehatan jiwa? Banyak ahli meraba, profesi yang terlihat seksi ini sesungguhnya memiliki sisi gelap. Meski kelihatannya tak sibuk di meja kerja, beban pekerjaan dan tanggung jawab seorang entrepreneur beda dengan yang bekerja sebagai karyawan. Seorang entrepreneur, terutama yang bisnisnya masih kecil dan menengah, sedikit banyak harus turun tangan langsung dan menangani bisnisnya. Sehingga, tak jarang seorang entrepreneur kelelahan secara fisik dan mental. “Istilahnya burnout,” ujar dr.

Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, psikiater dari rS Jiwa dr. Soeharto heerdjan, Jakarta. Burnout bisa diartikan sebagai kelelahan emosi terkait kerja, depersonalisasi, dan sebuah perasaan tentang penurunan prestasi. Yang perlu digarisbawahi, orang sering mengecap depresi dengan sembarangn. Padahal, menurut dr. Nova, depresi dan burnout epidemiologinya berbeda. “Gejala-gejala burnout lebih lazim di kalangan dokter daripada entitas diagnosis seperti depresi. harus diwaspadai terdapat tumpang tindih di antara keduanya dengan risiko depresi meningkat seiring dengan tingkat keparahan burnout,” jelas dokter yang menjadi ketua umum Persatuan Dokter Spesialis kedokteran Jiwa DkI Jakarta ini.

Gejala burnout bisa terlihat pada fisik maupun psikologis. Misalnya, kelelahan, insomnia, sulit konsentrasi dan mudah lupa, kehilangan selera makan, mudah marah/sedih, kehilangan minat pada apa yang biasanya disukai, pesimistis terhadap apa pun, tidak ingin bersosialisasi, dan menurunnya produktivitas. Meski sering terjadi, seseorang sering tidak mengetahui apakah dirinya mulai atau sudah dalam keadaan burnout.

Sadar Batasan
Bukannya egoistis, seorang entrepreneur memang harus memperhatikan dirinya. Sebagai pemimpin, kalau Anda mengalami masalah, maka seluruh bisnis Anda akan kena imbasnya. ujung-ujungnya, perusahaan dan pegawai akan terimbas juga. “Dalam menjalankan pilihan karier dalam kehidupan ini, mau tidak mau, apa pun profesinya, harus berusaha mindful terhadap kondisi kesehatan jiwanya. Akan lebih merepotkan dan sulit jika sudah jatuh dalam, misalnya, keadaan depresi (gangguan jiwa) atau cemas (juga gangguan jiwa) karena stres kerja yang tidak dikelola dengan baik,” saran dr.Nova. Mengaku lumayan santai menjalani bisnis di bidang pengolahan sampah, Wilda merasa bersyukur ia termasuk orang yang mudah tidur sebagai salah satu caranya untuk mencegah burnout. Begitu tidur, ibu tiga anak ini juga biasanya meminta keluarganya untuk tidak membangunkannya.

“Saya juga berusaha positif dalam menghadapi segala masalah,” ujarnya. Bersikap positif juga menjadi cara erdini dalam mengendalikan stres. “Saat menghadapi masalah, saya akan berpikir ini adalah pelajaran yang akan membuat saya lebih kuat dan tambah ilmu. Saya juga berusaha berkumpul dengan orang-orang yang sukses dan positif, dan mencari motivasi lewat buku dan sebagainya,” ujar erdini. erdini percaya, aura positif itu bisa menular. Ia juga selalu menyempatkan diri untuk menjalani hobi traveling.

Memang, banyak ahli psikologi menyarankan untuk menjalani hobi sebagai peredam stres. “Satu lagi, menurut saya, sangat penting bagi kita untuk berbagi cerita, baik dengan keluarga ataupun tim kerja. Jangan dipendam sendiri dan dibiarkan berlarut-larut,” ujar erdini, yang meski terlihat kalem dari luar, ternyata tegas dan keras kalau sudah urusan pekerjaan. Lebih lanjut dr. Nova menambahkan, seorang entrepreneur harus resilient. Resiliency adalah kemampuan yang sesungguhnya dimiliki oleh tiap manusia. Namun, ada yang terlatih dan ada yang tidak terlatih. orang yang resilient cenderung bisa menghadapi naik turun dalam kehidupan.

Artinya, jika dalam kondisi terpuruk, ia cukup kuat untuk bangkit kembali dan kreatif mencari solusi, dan tetap kuat saat diterpa kegagalan demi kegagalan. “Resiliency bisa diperkuat dengan sedini mungkin menjaga kesehatan jiwa, seperti dengan manajemen stres, mindful, dan lain-lain akan menjadi upaya yang menjaga ketajaman berpikir dan kesehatan jiwa seseorang sehingga saat sedang dihadapkan pada potensi masalah ia akan lebih berhati-hati dan tanggap, tidak gegabah dalam membuat keputusan,” ujar dr. Nova.

Hal yang juga diperlukan oleh seorang entrepreneur adalah memiliki kemampuan untuk ‘menghilang’. “Menghilang di sini sesungguhnya bukan hilang fisik sehingga kemudian berkesan kabur atau bolos atau malas atau ‘tidak bertanggung jawab’, tetapi lebih ke kualitas me time. Artinya, saat sedang ada kesempatan keluar dari lingkup pekerjaan, maksimalkan betul untuk relaksasi (tidak cheating masih mengintip pekerjaan, tidak bisa delegasi pekerjaan, dan lain-lain) dan mengistirahatkan mental (tidak membuka internet atau medsos yang bisa memancing emosi negatif),” jelas dr. Nova.

tidak hanya akan mencegah dan mengatasi burnout, ‘menghilang’ juga bisa untuk mencegah diri dari kemungkinan peningkatan masalah yang dapat berakhir pada gangguan kesehatan, jiwa seperti depresi dan cemas. Banyak keputusan yang salah diambil pada saat seseorang emosional. kondisi emosional sering kali menjadi buruk jika tidak membiasakan menjaga kesehatan jiwa diri.

Jika bingung bagaimana cara manajemen kesehatan jiwa diri, apalagi jika Anda sudah menemukan gejala-gejala burnout, silakan mencari pihak-pihak profesional, seperti psikiater (dokter jiwa) atau psikolog, untuk berkonsultasi dan secara terbuka mendiskusikan bagaimana cara stress management yang cocok untuk setiap individu. (individually-tailored mental management). Nova menyarankan, seperti halnya pemeriksaan kesehatan fisik yang biasanya dilakukan secara berkala, pemeriksaan kesehatan jiwa juga perlu dijadikan rutinitas yang wajar dan sehat, dan tidak terbelenggu pada stigma. Individually-tailored mental management bisa beragam bentuknya, mulai dari anjuran-anjuran untuk melakukan aktivitas fisik, relaksasi (yoga, relaksasi pernapasan sederhana), menonton film, mendengarkan musik, melakukan hobi, dan lain-lain yang disesuaikan dengan ketersediaan waktu dan kenyamanan individu.